Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Merupakan Kebutuhan Siswa Modern, Bagaimana Meningkatkan Minat Baca?

Senin, 19 Oktober 2020 | Oktober 19, 2020 WIB Last Updated 2020-10-20T06:44:35Z
Guru SD Islam Cikal Cendekia Tangerang, Ali Firdaus. (Foto: Dok. pribadi)

Hallotangsel.com - Negara modern diukur dengan tingkat budaya membaca yang tinggi. Jika melihat beberapa negara modern masyarakat mereka terbiasa dengan budaya membaca. 

Seperti Amerika, Jepang, Inggris, Jerman dll. Termasuk para pendahulu kita seperti Bung Karno, Pak Hatta, Sutan Syahrir, Buya Hamka mereka semua adalah contoh para pembaca buku. 

Yang jadi pertanyaan bagi kita apa yang membuat mereka suka membaca? tentunya, negara-negara maju menjadikan membaca adalah sebuah kewajiban. 

Sehingga mereka mendorong agar masyarakatnya aktif untuk membaca. Baik di kalangan pelajar atau masyarakat umum. 

Berbanding terbalik dengan Indonesia, menurut harian Kompas tahun 2015. “Minat baca anak sangat rendah.” (Kompas, tahun lalu, 2015). Membaca kabar tersebut kita sangat miris. 

Apakah kita harus menyalahkan siswa sekolah dasar? atau menyalahkan guru. Yang jelas peserta didik dan orang tua memiliki tanggung jawab sama. 

Di sekolah anak diajari segala macam bentuk pelajaran tapi di rumah orang tualah yang berperan untuk merivew kembali apa yang telah dipelajari di sekolah.Termasuk dalam hal membaca. 

Menurut data dari United National Educational, Scientific, anda Cultural Organization, menunjukan, “presentase minat baca anak Indonesia hanya 0.01 persen. Artinya dari 10.000 anak Indonesia cuma satu yang senang membaca.” (Kompas, bulan lalu, 2017).

Sebagai tenaga pendidik kita harus sadar betul tentang peranan membaca untuk kemajuan siswa. Oleh sebab itu saya menawarkan beberapa ide yang mungkin bisa diterapkan di sekolah. 

Untuk menumbuhkan minta baca bagi siswa sekolah dasar. Pertama, ketersediaan perpustakaan yang menarik. Mengapa perpustakaan di sekolah-sekolah selalu sepi. Salah satunya kurang menarik.

Perpustakaan berantakan tidak rapi. Bahkan terkesan perpustakaan seperti gudang buku-buku lama. Harusnya, perpustakaan dihiasi dengan gambar planet dan beberapa tokoh pencinta buku.

Dilengkapi pula dengan warna-warna yang sejuk. Buku disusun dengan konsep yang kreatif.  Bukan diletakan di rak seperti biasanya. Tapi rak buku dibuat seperti pohon. Di dalam batang pohon terdapat buku-buku. Termasuk buku yang disediakan pun harus menarik. Sesuai dengan usia anak.

Kedua, perpustakaan harus nyaman ada beberapa aturan yang harus dijalankan di dalam sebuah perpustakaan sekolah. Seperti tidak boleh berisik. Bercanda. 

Jika bercanda ada konsekwensinya. Biasanya guru harus memberi imbuan kepada anak-anak ketika ingin ke perpustakaan. 

Ketiga, peran guru. Peran guru di sini adalah memotivasi agar anak rajin membaca salah satunya memberikan reward bagi anak yang mampu menyelesaikan sebuah buku. 

Kemudian nama anak tersebut ditempel di kelas. Karena ia mampu membaca satu buku. Ini dilakukan agar anak-anak yang lain ikut termotivasi untuk membaca. Termasuk dari memotivasi. 

Guru harus mengarahkan anak pada buku yang ia sukai. Seperti ada beberapa anak yang menyukai cerita bergambar. Maka pihak sekolah harus memperbanyak buku-buku bergambar tentunya, yang sesuai dengan peraturan kemenbud.  

Guru juga harus membuat program satu hari untuk membaca buku di kelas rame-rame. Ini dilakukan agar siswa lebih bersemangat lagi berintraksi dengan buku. 

Jika waktunya memungkinkan pihak sekolah mengundang para penulis yang sudah menerbitkan buku. Untuk menyapa anak-anak siswa agar mereka termotivasi untuk membaca bahkan menulis sebuah buku. 

Dan yang tidak kalah penting adalah peran orang tua di rumah. Sekolah sudah mempunyai konsep perpustakaan menarik, nyaman, buku-buku tersusun dengan kreatif.

Tapi jika di rumah tidak di dorongan atau pun diberi contoh untuk membaca. Maka itu menjadi kurang maksimal. Saya sendiri memiliki pengalaman pribadi. 

Bagaimana kakek saya mengajarkan saya membaca dengan tidak menyuruh saya. Tapi dia membaca buku sambil tiduran. Itu membuat saya penasaran sehingga saya ingin tahu dan akhirnya ikut-ikutan membaca.

Ingat hanya menarik minat mereka. Karena membaca sambil tiduran tidak diperbolehkan oleh dokter.

Maka orang tua pun harus memberikan contoh untuk membudidayakan membaca. Walaupun sehari dua sampai tiga halaman. 

Membaca adalah kebutuhan siswa modern. Jika kita tidak punya program yang menarik untuk dibaca oleh anak-anak generasi kita maka mereka sulit untuk maju. Karena kemajuan di bidang apa-pun berasal dari membaca. 

Dengan membaca kita banyak tahu dari banyak tahu kita mulai mencoba sesuatu. Dari mencoba sesuatu kita akan menemukan hal yang baru. 

Oleh sebab itu, membaca menjadi sangat penting untuk kemajuan bangsa Indonesia. Agar generasi kita cerdas dan berkemajuan untuk membangun Indonesia.  

Oleh: Ali Firdaus, Guru SD Islam Cikal Cendekia Tangerang
×
Berita Terbaru Update