Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Teka-teki Musibah dan Doa Penangkal dari Musibah yang Lebih Besar

Kamis, 26 November 2020 | November 26, 2020 WIB Last Updated 2020-11-27T01:36:58Z

Dengan berdoa, seorang Muslim akan lebih dekat dengan Allah. /Pixels.com/Hebert Santos.

HALLO TANGSEL
 - Gunung merapi dikabarkan bakal meletus, dikabarkan pula jumlah pasien terpapar covid-19 meningkat tajam dan Jawa Tengah masuk rangking pertama nasional. 


Padahal belum hilang dari ingatan kita musibah gempa bumi dahsyat di Lombok dan Palu, namun musibah demi musibah datang silih berganti.


Bagi orang yang tidak mempunyai iman, gunung meletus hanyalah merupakan fenomena gejala alam yang tidak ada hubungannya dengan dosa manusia. Namun bagi orang yang beriman meletusnya gunung bukanlah sekedar fenomena alam, dan juga bukan peristiwa kebetulan. Namun ia terjadi karena kehendak dan kekuasaan Allah SWT.


مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّه

“tidak ada satu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah SWT” (QS At-Thagabun: 11)


Dan salah satu pemantik musibah adalah karena dosa manusia.


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْن

“telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merakan keapda mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan manusia, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar-Rum 41).


Pada zaman khalifah Umar bin Khattab pernah terjadi gempa bumi kecil di Madinah, maka seketika itu juga beliau menyuruh penduduk Madinah untuk mengistropeksi diri, dengan perkataan beliau: “jika terjadi gempa lagi, janganlah kalian tinggal di kota ini”.


Musibah yang menimpa orang kafir merupakan perskot awal dari azab Allah yang disegerakan di dunia. Akan tetapi musibah –terlepas dari besar kecil skalanya- bagi seorang muslim adalah sepotong tahapan ujian yang ia lalui.


عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ 

“aku sungguh takjub dengan keadaan orang mukmin! Sesungguhnya semua keadaannya merupakan kebaikan –dan itu tidak dimiliki oleh seorangpun selain orang mukmin- jika ia mendapat kesenangan maka ia bersyukur dan itu merupakan kebaikan baginya, dan jika ditimpa kesusahan maka ia bersabar dan itu merupakan kebaikan baginya” (HR Muslim)


Dan boleh jadi kalau musibah tidak di dukung dengan kesadaran dan kesabaran yang kuat, akan mengakibatkan musibah susulan atau musibah yang lebih besar berupa musibah terhadap agamanya.


Pada bulan Nopember 2009 (saat terjadi gempa di Mentawai), saya dikejutkan oleh SMS dari seorang teman yang tinggal di Mentawai Sumatra Barat. 


SMS tersebut menyatakan bahwa sudah 6 kecaamatan di Padang telah diresahkan dengan surat-surat ajakan murtad oleh LSM-LSM (pemberi bantuan gempa) non muslim lokal maupun internasional.


Surat-surat itu diawali dengan cuplikan ayat-ayat Al-Qur’an namum diakhiri dengan ajakan secara halus untuk murtad. Bahkan ada surat yang secara terang-terangan mengajak untuk murtad. 


Di akhir SMS, teman saya yang seorang dai ini, meminta dukungan dan doa dari saya agar aqidah mereka terselamatkan.


Sebagain ulama mengklasifikasikan beberapa perbuatan dosa yang masuk dalam musibah agama, yaitu: korupsi, menghalalkan segala cara untuk mendapatka dunia, dan merusak aqidah keyakinan dengan mengorbankan integritas pribadi dan agamanya.


Alih-alih mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan, orang yang tertimpa musibah agama justru terkena ancaman azab Allah SWT. Mungkin di dunia ia memperoleh sedikit kesenangan, tapi di akhirat akan merasakan siksa neraka –bila ia tidak bertobat-.


Oleh karena besarnya dampak negatif yang ditimbulkan oleh musibah agama, sepatutnya kita dan keluarga kita -sebagai muslim- untuk selalu melazimi doa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW sebagai penangkal datangnya musibah besar ini.


وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِيْ دِيْنِنَا وَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا

“Dan janganlah Engkau (ya Allah), jadikan musibah dalam agama kami dan jangan pula Engkau jadikan kehidupan dunia yang paling tinggi tujuan hidup kami” (HR Tirmidzi).

Oleh : Aproni Samsuri, Guru Pesantren.


×
Berita Terbaru Update