Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Vaksin Covid Suci dan Halal, Semoga Pandemi yang Menyusahkan Ini Segera Berlalu

Senin, 11 Januari 2021 | Januari 11, 2021 WIB Last Updated 2021-01-12T02:47:57Z

Ilustari Vaksin. /Pixels.com/Nataliya Vaitkevich.

HALLO TANGSEL 
- Tulisan saya kemarin “Aku mau divaksin” mendapat banyak tanggapan. Ada yang tidak setuju tetapi lebih banyak yang cocok. Biasa saja, berani bermedsos harus mau dinyinyiri oleh pengguna medsos.


Inti tulisan tersebut begini, “seandainya vaksin yang mau disuntikkan ke masyarakat  itupun belum ada fatwa halalnya, saya siap disuntik”.


Alhamulillah dari group MUI hari ini mendapatkan informasi bahwa ternyata MUI telah mengeluarkan fatwa terhadap vaksin tersebut. Intinya bahwa vaksin covid itu suci dan halal. Jadi tambah mantab lagi.


Ada tiga vaksin yang dimintakan fatwa ke MUI, yaitu Coronavac, Vaccine Covid-19 dan Vac2 Bio. Tidak ada penjelasan apa bedanya ketiga vaksin tersebut. Yang pasti semua berguna untuk mencegah covid-19.


Tim dari MUI bukan hanya mendapatkan penjelasan dari auditor tetapi mereka sebelumnya berkunjung langsung ke pabrik yang memproduksi vaksin itu yang ada di negara China, yaitu Sinovac Lifescience. Co


Mengapa perlu melakukan kunjungan ke tempat produksinya ? Karena dalam kaitan dengan pengeluaran fatwa pihak MUI harus benar-benar mengetahui bagaimana proses produksi sebuah barang.


Perlu diketahui MUI itu punya Lembaga Pengakajian Obat dan Makanan (LPOM). Tugasnya mengkaji hasil produksi obat-obatan, makanan dan minuman yang dimintakan fatwa ke MUI. Personelnya bukan hanya para ulama tetapi lebih banyak para ahli kimia, biologi maupun kesehatan.


Dalam mengakji sebuah produk  ada yang namanya titik kritis, yaitu tahap di mana sebuah produk itu rawan tekontaminasi dengan barang yang tidak halal atau najis. Mungkin di bahan baku, mungkin alatnya, mungkin prosesnya dan mungkin pula wadah yang dipakai untuk membungkus barang tersebut. Pada titik-titik inilah auditor halal akan jeli memperhatikan.


Sebagai gambaran, saya akan cerita bagaimana mengetahui titik kritis. Bukan kasus vaksin karena pasti ini rumit, tetapi kasus warung makan.


Seorang penjual makanan mengajukan sertifikasi halal ke MUI. Yang dijual itu bermacam-macam. Ada tempe goreng, tahu bacem, ikan goreng, pecel, sayur lodeh, bakwan, nasi goreng, sayur asem, daging bacem, soto dan rawon. Tim MUI lalu mengadakan audit. 


Setelah membaca Standar Operasional dan Prosedur (SOP) pembuatan berbagai makanan tersebut tim berkunjung ke tempat produksi dan warung penjualannya.


Di warung ternyata selain beberapa makanan di atas tim menemukan satu piring dideh goreng (darah yang dibekukan). Dari fakta tersebut maka terdapat titik kritis yang perlu diwaspadai.


Pertama, wadah tempat menyimpan dideh sebelum digoreng. Jika berdekatan atau bergantian dengan makanan lain maka perlu dicurigai makanan lain itu.


Kedua, wajan, serok, sotil dan minyak goreng yang dipakai untuk menggoreng. Jika bergantian dengan makanan lain maka makanan lain yang halal menjadi haram. Karena pasti bercampur barang najis dengan yang tidak najis.


Ketiga, tempat penyajian. Jika disajikan bersama-sama dengan makanan lainnya maka kemungkinan besar tertular najisnya.


Keempat, alat mengambil dideh ketika ada orang membeli. Jika sendoknya sama maka makanan lainnya menjadi najis juga.


Kelima, ember dan air untuk mencuci piring  orang-orang yang jajan. Jika tidak memakai air mengelir dan memakai sabun yang sama dipastikan gelas dan piring lain terkena najis.


Karena banyaknya titik kritis tersebut, kemungkinan besar warung yang jualan bermacam-macam makanan dan ditemukan dideh (darah beku) yang digoreng. MUI tidak akan mengeluarkan sertifikat halal. Karena betapa sulitnya memisahkan antara barang najis yaitu dideh dengan barang-barang halal.


Nah, ketika LPOM MUI berkunjung ke pabrik vaksin ternyata tidak ditemukan titik-titik kritis yang patut dicurigai mengandung barang najis dan haram. Karena itu kemudian dikeluarkan sertifikat halalnya.


Persoaan keamanan produk, secara teknis MUI mempercayakan kepada bio farma dan LPOM pemerintah. Karena tugas MUI hanya memastikan vaksin tersebut halal dan tidak najis.


Fatwa itu menjawab pertanyaan. Dalam hal ini Bio Farma yang menjadi importir vaksin covid dari China bertanya kepada MUI tentang vaksin penanggulangan covid yang diproduksi  oleh perusahaan dari China yang bernama Sinovac Lifescience. Co


MUI tukang stempel. Boleh dikatakan begitu, tetapi independensi tentang pengeluaran fatwa tidak perlu diragukan. Fatwa bisa diminta tetapi isi fatwa tidak bisa dipesan. Barang haram tidak mungkin dimintakan fatwa ke MUI karena pasti hasilnya juga haram.


Ulama bukan hanya bertanggung jawab kepada manusia tetapi yang lebih berat adalah urusannya dengan  Allah. Sehingga mereka tidak mungkin menjual agama untuk kepentingan dunia. Sebagimana firman Allah.


“Sesungguhnya ulama adalah hamba yang takut kepada Allah (Fatir: 28)”.


Vaksin sudah ada fatwa halalpun sudah keluar. Dengan ihtiar semua pihak semoga covid-19 segera sirna. Amin


Oleh: Dr. Muh. Nursalim, Eseis dan peneliti sosial keagamaan.

×
Berita Terbaru Update